Sunday, September 2, 2012

ACEH: SEJARAH MENUJU PERDAMAIAN DAN PEMBANGUNAN KEMBALI


Aceh merupakan salah satu kawasan di Asia, terkenal dengan konflik yang berkepanjangan. Sejak 1976, Pemerintah Indonesia menghadapi permasalahan internal yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka. Ketidakadilan dan penyalahgunaan HAM menjadi sumber utama terjadinya konflik dan berakhir dengan perdamaian.Dengan jumlah penduduk sekitar 4.2 juta jiwa (2008), Aceh adalah wilayah teritorial Indonesia. Hampir semua masyarakat Aceh beragama Islam dan hidup di sektor pertanian (60%), walaupun Aceh kaya dengan sumber minyak dan gas.Berbagai upaya damai belum memberi hasil yang maksimal. Dua upaya damai yang pernah dibangun: "Jeda Kemanusiaan” atau “Humanitarian Pause" tahun 2000, hanya menghentikan konflik sementara, dan “Penghentian Permusuhan” atau "Cessation of Hostilities Agreement" (COHA) pada December 2002, tetapi berakhir dengan pelaksanaan Darurat Militer oleh Pemerintah Indonesian pada May 2003.

 
Namun, bencana besar gempa dan Tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang telah mengambil korban ratusan ribuan nyawa dan menciptakan kehancuran harta dan benda telah menciptakan sebuah perubahan besar bagi masyarakat Aceh, sekaligus menimbulkan simpati dunia serta membuka jalan perdamaian untuk mengakhiri konflik di Aceh pada tanggal 15 Agustus 2005. Jalan perdamaian yang dimediasi oleh the Crisis Management Initiative (CMI), Mantan Presiden Finlandia Bapak Martti Ahtisaari telah berhasil mengakhiri konflik di Aceh dengan menggunakan formula: “tidak ada yang disetujui sampai segala sesuatu disetujui”. MoU Perdamaian tersebut ditandatangani di Helsinki, Firlandia yang akhirnya menghasilkan UU. No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING (MOU): BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA (GOI) AND FREE ACEH MOVEMENT (GAM)
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermatabat bagi semua pihak. Para pihak yang bertekat untuk menciptakan kondisi, sehingga Pemerintahan Rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara kesatuan dan konstitusi Republik Indonesia. Para pihak sangat yakin bahwa dengan penyelesaian damai atas konflik tersebut yang akan memungkinkan pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami tanggal 26 Desember 2004 dapat mencapai kemajuan dan keberhasilan. Para pihak yang terlibat dalam konflik bertekad untuk membangun rasa saling percaya.

GEOGRAFI
Aceh terletak di kawasan paling ujung bagian utara Pulau Sumatera, sekaligus merupakan kawasan paling barat gugusan kepulauan Indonesia yang berjumlah 17,000 pulau itu. Secara geografis, Aceh terletak di antara 2 derajat – 6 derajat Lintang Utara dan 95 derajat – 98 derajat Bujur Timur dengan luas wilayah 57.365,57 Km2. Tinggi rata-rata 125 m di atas permukaan laut. Batas di sebelah barat adalah Samudera Indonesia dan disebalah utara dan timur adalah Selat Malaka. Sedangkan, di sebelah utara mengikuti Sungai Simpang Kiri di sebelah timur dan Sungai Tamiang di sebelah barat bagian selatan. Aceh memiliki 73 sungai, 3 danau dan 119 pulau. Salah satu pulau tersebut adalah “Pulau Weh” yang terletak di bagian ujung paling barat. Pulau ini sering juga disebut Pulau Weh yang merupakan ibukota Kota Sabang yang terkenal dengan keindahan alamnya. Pulau-pulau lainnya yang berdekatan dengan Pulau Weh, seperti Pulau Rubiah, Pulau Rondo, Pulau Seulako,  Pulau Breuh dan Pulau Nasi. Terdapat juga pulau-pulau besar lainnya, seperti Pulau Simeulue, Tuanku Pulau, Babi Pulau dan Pulau Banyak. Arah bujur dari badan daratan Aceh, membujur dari utara ke selatan tepatnya dari arah barat laut ke tenggara. Daratan ini yang merupakan bagian paling utara (barat laut) dari Pulau Sumatera yang dibelah oleh pegunungan Bukit Barisan yang merupakan ujung paling utara dari badan besar pegunungan Bukit Barisan, yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Sebelah barat pegunungan ini merupakan daerah yang sempit dengan hutan lebat, bukit yang curam dan beberapa bagian merupakan daerah dengan tebing yang curam.Sedangkan, di bagian timur Bukit Barisan terdiri dari hamparan dataran yang luas dengan sawah-sawah irigasi dan semakin mendekati pantai Selat Malaka, maka akan ditemui hutan bakau (telah dilakukan kegiatan penanaman kembali hutan bakau setelah Tsunami).Di tengah-tengah provinsi ini berjajar Pengunungan Bukit Barisan melalui dataran tinggi Tangse, Gayo dan Alas. Puncak yang paling tinggi adalah Leuser (3.466m) Ucop Molu (3.187 m), Abong-Abong (3.015 m), Peut Sago (2.786 m) Geuredong (2.295 m) dan Burni Telo (865 m).Pengunungan Aceh Raya dengan terdapat puncak Seulawah Agam (1,762 m) dan Seulawah Inong  (865 M). Daerah ini juga terdapat beberapa danau: Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, Danau Aneuk Laot di Pulau Weh dan Laut Banko di Aceh Selatan. Sungai yang bermuara ke Selat Malaka adalah Krueng Aceh, Krueng Peusangan, Krueng Peuruelak, Krueng Tamiang, sedangkan sungai yang bermuara  ke Samudera Hindia adalah Krueng Teunom, Krueng Meurueubo, Krueng Simpang Kanan dan Simpang Kiri.Sungai yang besar adalah Alas dan Tripa yang sangat populer untuk kegiatan wisata petualangan air, seperti rafting, perahu air, dll.
I K L I M
Aceh memiliki iklim tropis, sehingga memungkinkan terjadinya hujan di sepanjang tahun. Walaupun, kemungkinan terjadi hujan di Aceh di sepanjang tahun, tetapi pergantian musim masih dapat terjadi. Musim kemarau biasanya terjadi sejak Bulan Juli sampai Bulan September yang didahului oleh musim kering dari sejak akhir Maret. Sedangkan, musim hujan biasanya terjadi pada Bulan Desember sampai Maret. Keadaan suhu udara Aceh umumnya panas dengan temperatur antara 25 – 30 derajat C bahkan dapat mencapai 32 derajat C di musim kemarau. Sementara di daratan tinggi umumnya berkisar antara 19 – 20 derajat C.Secara keseluruhan Aceh memiliki kelembaban yang tinggi, khususnya di wilayah pesisir barat yang sangat lembab dan basah, sehingga wilayah pantai barat hampir selalu terjadi hujan di sepanjang tahun. Beberapa daerah memiliki jumlah curah hujan hingga 4000 ml per tahun. Sebaliknya, wilayah timur memiliki jumlah curah hujan tidak pernah kurang dari 2000 ml per tahun.
FLORA & FAUNA
Aceh memiliki hutan tropis yan luas, sehingga kaya dengan keanekaragaman flora dan fauna. Hutan yang selalu hijau rimbun sepanjang waktu menjamin kehidupan bagi makhluk hidup. Aceh memiliki potensi aneka jenis fauna yang relatif besar. Tercatat bahwa ada 512 jenis binatang menyusui, 313 burung, 76 reptil dan 18 amphibi.Beberapa jenis satwa yang dianggap menarik dan tergolong langka juga dapat dijumpai di daerah ini, seperti Badak  Sumatera (dhidernoseros sumatrensis), Harimau Sumatera (pan the rarigris Sumatroe), mawas atau orang utan, Kambing hutan Sumatera (nomor heaedus Sumatrensisa), gajah (elephants mazimus), dan berbagai jenis burung, seperti Rangkonngnya, kuaw, Sang raja udang. Selain, itu terdapat beberapa satwa mamalia lainnya, seperti monyet, orang utang seperti gibbon yang tidak berekor (helobates sindactilus) dan monyet berekor panjang. Juga terdapat  aneka jenis kupu-kupu dengan aneka warna.Sementara, juga terdapat flora dengan keanekaragamannya yang sudah dinyatakan sebagai spesies langka, seperti Raflessia, Sang Lesf, daun Sang tumbuh berkelompok dalam hutan wisata. Tumbuhan jenis ini masuk dalam kelas “family palmae” dan berdaun sangat segar. Luas hutan Aceh berkisar 4,130,000 Ha atau meliputi 74.56 % dari luas daratan. Sekitar 849,954 ha diperuntukkan sebagai hutan lindung (20.58 %) dan 1,561,996 ha diperuntukan sebagai hutan suaka alam (37.82 %). Taman Nasional Gunung Leuser adalah taman nasional yang terluas di Asia Tenggara dengan luas 80,000 ha yang membentang 100 km dari Aceh sampai Gunung Sibayak di Provinsi Sumatera Utara. Taman alam unggulan lainnya untuk tujuan konservasi flora and fauna adalah Taman Laut Nasional Pulau Weh di Pulau Weh.
Suku-suku bangsa Aceh
Di Aceh terdapat beberapa berbagai macam suku bangsa:
Suku bangsa Aceh: Suku bangsa yang menempati seluruh wilayah pesisis hingga daerah yang lebih dalam dan merupakan suku bangsa yang paling besar di AcehSuku bangsa Gayo: Suku bangsa yang menempati daerah pedalaman, seperti Aceh Tengah, Bener Meuriah dan Gayo Lues.Suku bangsa Aneuk Jamee: Suku bangsa yang menempati daerah pesisir dari Aceh Jaya sampai Aceh Selatan yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Suku bangsa Singkil: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh bagian selatan dan tenggara.Suku bangsa Kluet: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh bagian selatan bagian tengah.Suku bangsa Alas: Suku bangsa yang menempati daerah Alas, Aceh Tenggara bagian selatan.Suku bangsa Pulau: Suku bangsa yang menempati daerah Simeulue.Suku bangsa Tamiang: Suku bangsa yang menempati daerah Aceh Timur bagian selatan.Jumlah penduduk Aceh sebelum bencana Tsunami 4.271 juta jiwa (data dari KPU, 2004). Sekarang jumlah penduduk Aceh hanya 4.031,589 juta orang (data tanggal 15 September 2005). Jumlah penduduk Aceh sekarang meningkat dua percent dari jumlah penduduk Indonesia.
SEJARAH
Berdasarkan sejarah nenek moyang orang Aceh berasal dari Vietnam Selatan, Koching China dan Kambodia. Kemudian, terjadi kedatangan masyarakat Melayu Muda dengan membawa budaya baru. Akhirnya masyarakat Aceh bertolak dan tinggal di gunung dan menjadi dua kelompok masyarakat: Gayo dan Alas.Aceh terletak pada posisi strategis di barat laut ujung pulau Sumatera antara Timur dan Barat. Aceh pernah menjadi daerah transit  kegiatan perdagangan rempah-rampah dari Maluku Camphor, Barus dan Lada. Aceh juga menjadi pintu masuk Agama Islam dari pedagang Arab, Persia, Turki dan India. Walaupun masyarakat pulau Jawa sudah mengenal Islam, Aceh merupakan daerah pertama sekali masuknya Islam ke Indonesia. Pada akhir abad ke 13, kerajaan Islam tumbuh dan berkembang di daerah Pasai, bukan hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Agama Islam.
Bangsa Portugis pertama sekali datang tahun 1509 ke Kerajaan Pasai dan Kerajaan Pedir (Pidie). Kemudian mereka menaklukkan Malaka. Pada masa itu tercatat masa kejayaan Aceh, Johor dan Portugis yang menguasai sektor perdagangan di Selat Malaka.
KEBUDAYAAN
Aceh memiliki khasanah budaya yang kaya.  Kebudayaan ini pada dasarnya diwarnai oleh ajaran Islam, namun demikian pengaruh Agama Hindu yang telah berakar sebelum masuknya Islam masih tetap berpengaruh. Hal ini terlihat baik dalam kehidupan adat istiadat, kesenian maupun kehidupan sehari-hari.Kesenian tradisional masyarakat Aceh memiliki identitas yang religius, komunal, demokratik dan heroik. Kesusasteraan Aceh terdapat dalam Bahasa Aceh dan Melayu (Jawi), sementara Bahasa Arab, baik kata maupun ibaratnya banyak sekali mempengaruhi Kesusasteraan Aceh. Pakaian sehari-hari di Aceh sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Bagi wanita diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat: di bawah kaki hingga tumit, lengan badan dan rambut.Dahulu, kaum wanita biasanya memakai celana panjang, namun akibat pergantian masa, keadaan ini telah berubah. Sekarang, orang Aceh lebih suka memakai kain sarung dan blus batik, namun dalam keadaan tertutup aurat. Pakaian-pakaian ala barat pada umumnya dipakai oleh kalangan muda-mudi, khususnya anak-anak sekolah, mahasiswa dan orang-orang kantor. Hampir semua pakaian berada dalam batas kesopanan dan pakaian setengah telanjang tidak pernah terlihat, meskipun di tepi pantai.  Wisatawan diharapkan dapat menjaga norma-norma di daerah ini.Selama Bulan Ramadhan dan Hari Jum’at akan terlihat tanda-tanda keIslaman yang kuat. Selama Bulan Ramadhan semua orang dewasa diharuskan berpuasa, tetapi tanpa menghambat aktifitas sehari-hari.
PAKAIAN TRADISIONAL
Aceh terbagi dalam 23 kabupaten/kota. Hampir setiap daerah mempunyai pakaian yang berbeda. Tapi pakaian standar untuk laki-laki celana panjang hitam, baju hitam tangan panjang dengan satu kancing di leher. Kain songket dililit di pinggang dan satu rencong diselipkan di balik songket bagian depan. Di kepala kupiah meukeutop, di puncak kopiah terdapat ornamen emas berbentuk bintang.Wanita Aceh menggunakan blus kuning atau merah dengan bordir benang mas di depan (dada) dan di ujung lengan, bawahnya memakai celana hitam yang dibordir benang mas dan menggunakan sarung songket diatasnya ditambah tali pinggang yang terbuat dari emas atau perak. Kepala dihiasi dengan kembang goyang dari emas, kalung berurai dari leher sampai pinggang. Tangan memakai beberapa gelang dan jari tangan penuh dengan cincin emas.
MAKANAN DAN MINUMAN
Jenis makanan Aceh hampir sama dengan makanan Indonesia lainnya, beragam dan agak pedas. Makanan lain, seperti masakan Padang, Cina, Eropa dan masakan Indonesia lainnya mudah dijumpai di kota. Bermacam outlet dari restoran hotel besar sampai ke jalan-jalan kecil dapat dijumpai warung nasi, mie, martabak, sayuran dan makanan kue-kue tradisional.  Orang Aceh mengkonsumsi nasi yang telah dimasak, dikukus atau nasi goreng dengan sayur, ikan, daging, ayam, sambal cabe, emping, pecal, gado-gado yang biasanya pedas atau sesuai dengan permintaan. Juga terdapat “Rujak Aceh” yang segar. Di restoran-restoran besar sering dijumpai udang, kepiting, daging kambing dan banyak lainnya dimasak dengan resep tradisional Aceh. Biasanya untuk mengempukkan daging, maka digunakan daun ganja sebagai bumbu masak, bukan untuk tujuan memabukkan.
RUMAH ACEH
Kampung Aceh terletak di daerah sedikit ke pedalaman yang dikelilingi oleh pepohonan yang menghasilkan buah-buahan, sehingga terasa sejuk. Rumah Aceh dibangun secara tradisional dengan menggunakan pasak kayu penggati paku yang dimasukkan dalam lubang penjepit untuk menjamin kekuatan rumah. Rumah dibangun di atas 16,20 atau 24 tiang yang kokoh setinggi 6-8 kaki diatas tanah untuk proses sirkulasi udara dan kenyamanan bagi orang-orang untuk bergerak. Tiang rumah terbuat dari kayu keras berwarna coklat tua (merbau), khususnya di tanam di dalam tanah. Semua sisi yang digunakan panjangnya berukuran 12 kaki. Dinding dibuat dari kayu meranti atau bambu, lantai bertingkat, bagian tengah lebih tinggi 30 cm dari sisi lainnya. Atap terbuat dari daun rumbia.
TARIAN
Tarian biasanya dipersembahkan sebagai hiburan untuk para sultan dan tamu mereka setelah bekerja keras di ladang. Dewasa ini tari-tarian paling banyak dipertunjukkan, khusus pada berbagai acara pemerintahan, tetapi banyak pula kelompok-kelompok tarian tradisional sebagai warisan tradisi. 
Ranub Lam Puan
“Ranub” adalah sirih yang sering dimakan oleh orang Aceh sebagai daun yang berkhasiat. Secara tradisional digunakan sebagai kunyahan setalah makan dan disajikan untuk menunjukkkan rasa hormat kepada para tamu.“Penyajian Sirih kepada tamu“ adalah sebuah tarian yang sudah populer untuk penyambutan tamu-tamu terkemuka yang datang ke Aceh dan juga pada pembukaan acara seremonial ditarikan oleh sembilan orang wanita dan diiringi oleh musik “Seurunee Kalee”. Pada akhir tarian para penari menawarkan  “Sirih” (ranub) untuk para tamu sebagai rasa hormat walaupun  tidak seorang pun harus makan sirih.
Pemeulia Jamee
Tari ”Pemeulia Jamee” sama dengan tarian Ranub Lampuan. Perbedaannya adalah tidak menyajikan Sirih dan musik yang digunakan bernuasa padang pasir di Negara Arab, dan  lagu yang dinyanyikan dimulai dengan sapaan dengan bahasa Arab, “Assalamu ’alaikum”.
Rapa-ii Geleng
Rapa-ii adalah  jenis tamborin yang biasanya dipakai untuk mengiringi sebuah lagu atau tarian. Permainan Rapa-ii telah dikembangkan dan diiringi dengan lagu-lagu dan berbagai macam lenggak-lenggok yang indah. Ini merupakan dobrakan penampilan sebuah tarian baru yang disebut “Rapa-ii Geleng”. Tarian ini dimainkan oleh 11 sampai 12  orang  penari dan setiap mereka memainkan Rapai (tamborin kecil).Sambil bermain Rapa-ii dan menyanyikan lagu, mereka melakukan berbagai gerakan tubuh, yaitu tangan, kepala dan lain-lain. Gerakan para penari hampir sama dengan tarian Saman, tetapi menggunakan “Rapa-ii”. Jenis tarian ini sangat dinikmati dan menyenangkan. Disamping itu, masih banyak lagi kesenian-kesenian lain, seperti: Ratoh Dang Deria dan Dendang Singkil.
Seudati
Seudati adalah salah satu tarian yang populer di Aceh Utara. Jumlah penarinya sebanyak 8 orang dalam satu kelompok dan mereka dipimpin oleh seorang penari yang disebut “Syech” dan didampingi oleh dua penari lain yang disebut “Apet Syech”. Tarian ini dibantu oleh dua penyanyi untuk mengiringi tarian. Ada dua jenis Seudati: v  Seudati Inong: jenis seudati yang dimainkan oleh gadis-gadis dengan memakai kostum cerah. v  Seudati Agam: jenis seudati yang dimainkan oleh pria.
Tarek Pukat
Tarian Tarek Pukat menggambarkan kehidupan nelayan di daerah pesisir. Termasuk di dalamnya pembuatan jala jaring, mendayung sampan, menangkap ikan dan menarik jala. Jenis tarian ini sangat menyenangkan dan dinamis yang diiringi oleh lagu dan instrumen musik. Setiap penari mempunyai tali sambil menarik tali dan dirangkaikan menjadi jala.